Kasih Sayang dalam Cinta
Kesempurnaan ciptaan Allah diantara makhluk-makhluk Nya sepertinya lengkap ada pada wujud manusia, karena mereka memiliki akal, hati, perasaan dan kemampuan motorik yang luar biasa. Manusia diciptakan Allah SWT untuk saling berpasangan, begitulah Allah mengaturnya. Akal dan hati yang mengungkapkan rasa berubah menjadi cinta jika manusia bertemu dengan seseorang yang baginya memiliki arti tersendiri dibandingkan orang lain. Cinta bukanlah keterpaksaan, tidak bisa dibohongi dan dipungkiri. Cinta lebih bijak dalam memilih, tidak pandang apakah seseorang yang dicintainya itu orang yang hina, sempurna ataupun biasa-biasa saja.
Terkadang orang lebih memilih cinta dalam mengungkapkan perasaannya pada seseorang, namun ada juga yang lebih menyukai kata “sayang” dari pada “cinta” untuk mengungkapkan perasaan yang istimewa. Pada dasarnya itu adalah hak semua orang untuk memilih kata-katanya. Akan tetapi yang menjadi esensi dari semuanya itu adalah rasa yang tulus tanpa syarat. Bukanlah hal yang mudah untuk menerima seseorang yang istimewa tanpa syarat, karena kita manusia memiliki id sebagai naluri dan ego yang terkadang sulit kita mengendalikannya dengan baik. Meskipun cinta hadir sebagai kejujuran rasa, seringkali manusia terlupa oleh hal-hal yang bisa merusaknya ketika bahagia atau lupa dengan hal-hal yang bisa menguatkan rasa cintanya ketika sedih melandanya.
Apakah cinta? Banyak orang sebenarnya masih seringkali mempertanyakan, meskipun mereka sudah pernah merasakannya. Apakah cinta selalu disertai dengan pengorbanan? Bila kita merenungkannya, memang selalu ada pengorbanan, namun pengorbanan itu tidak akan menyengsarakan jika kita berpikir bahwa itu merupakan bentuk kasih dalam cinta kita. Kapan prinsip diri berdiri ketika cinta seolah tak akan pernah rela dilepaskan? Prinsip diri merupakan ciri orang yang asertif dalam hidupnya dan akan sangat berguna bagi orang yang mempunyai pasangan kurang asertif. Segala sesuatu akan indah jika sesuai porsinya, begitu pula dengan keasertifan prinsip diri, karena jika itu berlebihan ataupun sangat kurang bisa membuat cinta tanpa kasih. Artinya, cinta itu tidak disertai kasih sayang untuk mengerti, memahami dan berbagi.
Kasih sayang dalam cinta nampaknya menjadi solusi yang baik untuk membantu kita lebih membuka hati dan pikiran kita untuk merasakan cinta secara maksimal sebagaimana potensi kasih sayang yang ada dalam setiap hati manusia seperti apapun dia. Perenungan memang seolah tidak akan pernah berhenti berapa tahun pun kita mencintai seseorang, karena bisa jadi pada saat ajal tinggal ditenggorokan mungkin kita baru menyadari sesuatu tentang diri kita dan orang yang kita sayangi. Cinta bukan hanya bersifat letterlux saja, namun ia butuh kasih sayang untuk membuatnya lebih manis dan terjaga di hati sampai ajal tiba. Menerima seseorang tanpa syarat merupakan bentuk dari kasih sayang untuk menyintai apa adanya, bukan berarti kita menyintai dengan mengorbankan segala prinsip pribadi. Keindahan cinta hanya kita sendiri yang dapat memilihnya, karena sesungguhnya kegelapan cinta hanya akan ada jika kita tidak memiliki kasih sayang yang tulus dalam bercinta.
“Berkata tinggallah menggerakkan bibir atau sekedar menggerakkan tangan untuk menulis, tapi menjadikannya sebagai tanggung jawab diri dalam berperilaku adalah hal yang membutuhkan konsistensi dalam berkomitmen tentang apa yang kita katakan dan rasakan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar